Jika kamu mendengar kata sampah, wajar jika mungkin kamu akan membayangkan onggokan barang bekas pakai yang kumuh, bau, dan kotor. Namun imajinasi negatif tidak pernah menyambangi benak mahasiswi Universitas Pasundan (Unpas) ini.
Khilda Baiti Rohmah, dara 23 tahun tersebut memiliki pemikiran yang berbeda mengenai sampah. Bukannya jijik atau acuh, mahasiswi jurusan Teknik Lingkungan itu malah berinisiaif untuk mengajak para tukang sampah di lingkungannya.
Dia mengedukasi para tukang sampah untuk memilah sampah orgaik dan non organik. Tidak sampai di situ, Khilda pun menularkan semangatnya mengenai sampah kepada warga sekitar untuk melakukan pemilahan sampah. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan yang non organik dibuat menjadi aneka kerajinan tangan.
Namun, perjalanan Khilada dalam mengajak warga sekitar sejak 2007 tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, dia sempat tidak mendapat dukungan warga. Tidak menyerah, berkat keuletan dan semangat tinggi yang dia lakukan, akhirnya warga pun sadar akan pentingnya pemilahan sampah dan menikmati hasilnya.
Berkat kerja keras dan dedikasinya pada pemilahan sampah, Khilda berhasil meraih penghargaan yang diberikan oleh salah satu bank BUMN berupa uang senilai Rp55 juta rupiah dan piagam penghargaan.
Khilda kini tengah mengembangkan penemuan tentang pengolahan sampah sebagai energi alternatif pengganti miyak tanah. Semoga hadiah uang yang dia dapat bisa membantunya dalam penelitian yang nantinya berguna untuk banyak orang.(rhs)
sumber : www.okezone.com
Khilda Baiti Rohmah, dara 23 tahun tersebut memiliki pemikiran yang berbeda mengenai sampah. Bukannya jijik atau acuh, mahasiswi jurusan Teknik Lingkungan itu malah berinisiaif untuk mengajak para tukang sampah di lingkungannya.
Dia mengedukasi para tukang sampah untuk memilah sampah orgaik dan non organik. Tidak sampai di situ, Khilda pun menularkan semangatnya mengenai sampah kepada warga sekitar untuk melakukan pemilahan sampah. Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan yang non organik dibuat menjadi aneka kerajinan tangan.
Namun, perjalanan Khilada dalam mengajak warga sekitar sejak 2007 tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, dia sempat tidak mendapat dukungan warga. Tidak menyerah, berkat keuletan dan semangat tinggi yang dia lakukan, akhirnya warga pun sadar akan pentingnya pemilahan sampah dan menikmati hasilnya.
Berkat kerja keras dan dedikasinya pada pemilahan sampah, Khilda berhasil meraih penghargaan yang diberikan oleh salah satu bank BUMN berupa uang senilai Rp55 juta rupiah dan piagam penghargaan.
Khilda kini tengah mengembangkan penemuan tentang pengolahan sampah sebagai energi alternatif pengganti miyak tanah. Semoga hadiah uang yang dia dapat bisa membantunya dalam penelitian yang nantinya berguna untuk banyak orang.(rhs)
sumber : www.okezone.com


0 komentar:
Posting Komentar